Maryam Reses di Institut Pahlawan 12

Admin
Reses Anggota DPRD Provinsi Babel, Maryam, di Institut Pahlawan 12 Sungailiat, Sabtu (12/9).
A-AA+A++

‎BANGKA – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Maryam, menggelar reses di Institut Pahlawan 12 Sungailiat, Kabupaten Bangka, Sabtu (12/9/2026).

‎Turut hadir Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja, DP3ACSKB, Dinas Kesehatan, Bappeda, rektor, dan para dosen Institut Pahlawan 12.

‎Kegiatan tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi mahasiswa dan dosen terkait pendidikan, beasiswa, lapangan kerja, hingga lingkungan.

‎Dosen Institut Pahlawan 12, Bambang, mengapresiasi reses Maryam yang disebut sebagai anggota dewan pertama menggelar kegiatan serupa di kampus tersebut dalam 12 tahun terakhir.

‎Ia menyoroti kuota KIP Kuliah sebanyak 40 slot yang baru terisi 39 akibat kendala data desil.

‎“Banyak mahasiswa yang layak menerima, termasuk anak yatim, tetapi terdata di atas Desil 4,” ujar Bambang.

‎Selain itu, pihak kampus meminta DPRD mengawal percepatan pencairan beasiswa kerja sama Pemprov Babel yang kerap mengalami keterlambatan.

‎Mahasiswa, Rafi, mempertanyakan program beasiswa bagi mahasiswa di luar penerima KIP Kuliah serta peluang program Bappeda tahun 2027.

‎Sementara Bagas menyoroti sulitnya lulusan SMA, SMK, dan sarjana memperoleh pekerjaan meski angka pengangguran terbuka disebut mengalami penurunan.

‎“Langkah dan solusi konkret apa yang disiapkan untuk membenahi masalah penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Bangka?” tanyanya.

‎Menanggapi hal tersebut, Budi Farabi dari Disnaker Babel mengimbau mahasiswa memanfaatkan platform SIAPkerja untuk mengakses informasi ketenagakerjaan.

‎Maryam menilai persoalan data desil perlu dievaluasi karena belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat.

‎“Kalau orang punya motor, bukan berarti dia kaya. Motor itu bisa dipakai untuk bekerja, mobilitas sekolah anak, atau masih kredit,” kata Maryam.

‎Ia berencana menyurati pimpinan DPRD Babel untuk mengagendakan rapat koordinasi bersama BPS dan Dinas Sosial guna membahas perbaikan data.

‎Terkait beasiswa, Maryam menyebut terdapat sejumlah alternatif bantuan pendidikan, seperti BAZNAS, PPA, bantuan UKT, yayasan, BUMN, dan perbankan.

‎“Masalahnya cara mengaksesnya yang kurang terinformasi. Setelah ini kita buat grup supaya Ibu bisa membagi informasi ini satu untuk semua,” ujarnya.

‎Maryam juga mengkritisi pelatihan vokasi yang belum sepenuhnya sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.

‎“Kalau pelatihan barista, jangan hanya pengenalan dasar. Anak-anak ini harus benar-benar bisa menyerap keterampilannya,” katanya.

‎Dalam reses tersebut, dosen juga meminta dukungan pendanaan penelitian yang mengangkat isu lokal Bangka Belitung. Mahasiswa turut menyampaikan persoalan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dan meminta DPRD mendorong penegakan hukum.

‎Berbagai aspirasi tersebut diharapkan menjadi bahan perjuangan Maryam dalam mendorong kebijakan yang berpihak kepada masyarakat Bangka Belitung. (BM)