‎Usaha Pantiaw Turun-Temurun 20 Tahun

‎BANGKA – Program Z-Preneur Baznas yang memberikan bantuan modal dan perlengkapan usaha disambut positif para pelaku UMKM.

‎Salah satunya Fahrudin, pelaku usaha pantiaw asal Air Jukung, Belinyu, Kabupaten Bangka, yang telah menjalankan usaha kuliner turun-temurun selama lebih dari 20 tahun.

‎Fahrudin mengatakan usaha pantiaw yang dikelolanya bersama sang istri, Fatmawati, merupakan warisan keluarga yang hingga kini tetap dipertahankan dengan resep asli.

‎”Usaha ini sudah lebih dari 20 tahun. Turun-temurun dari ibu. Saya sebenarnya petani, tetapi istri saya yang semangat menjalankan usaha ini sampai sekarang,” ujarnya usai mengikuti Launching Program Z-Preneur Baznas di Ballroom Hotel ST12 Sungailiat, Rabu (22/7/2026).

‎Setiap hari, pasangan tersebut memproduksi pantiaw kuning berbahan gandum dan pantiaw putih berbahan beras untuk memenuhi permintaan pelanggan dari Sungailiat hingga Pangkalpinang.

‎Menurut Fahrudin, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan modal, terutama ketika harga ikan sebagai bahan baku utama mengalami kenaikan.

‎”Sekali produksi kami membeli ikan sekitar 35 sampai 45 kilogram. Kalau harga ikan masih sekitar Rp20 ribu per kilogram masih bisa dijangkau. Tapi kalau sudah naik menjadi Rp25 ribu sampai Rp30 ribu, kami biasanya berhenti dulu produksi sambil menunggu harga turun. Itu karena kendala modal,” jelasnya.

‎Ia mengungkapkan cita rasa pantiaw buatannya tetap dipertahankan sejak awal usaha berdiri.

‎Bumbu sederhana seperti bawang putih, bawang merah, kecap, dan garam menjadi racikan utama yang membuat pelanggan tetap setia.

‎”Banyak yang bilang rasanya berbeda dengan pantiaw lain. Resepnya tidak pernah kami ubah sejak dulu,” katanya.

‎Usaha pantiaw miliknya berlokasi di Simpang PMD, Jalan Pelabuhan, tepatnya di bawah Kantor Lurah Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

‎Selain menjual pantiaw siap santap, ia juga melayani pembelian pantiaw mentah dalam jumlah besar.

‎Meski permintaan terus ada, Fahrudin mengaku belum berencana membuka cabang karena masih terbatasnya tenaga yang memahami proses pembuatan pantiaw sesuai resep keluarga.

‎”Kalau buka cabang harus ada orang yang benar-benar belajar dulu cara membuatnya. Tidak bisa sembarangan karena resepnya harus tetap sama,” ujarnya.

‎Selain sebagai pelaku UMKM, Fahrudin juga merupakan Ketua Masjid Nurul Hidayah di Desa Padang Lalang, Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu.

‎Ia berharap bantuan melalui Program Z-Preneur dapat membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya memperkuat modal sehingga produksi dapat berjalan lebih stabil meski harga bahan baku mengalami kenaikan. (BM)

Komentar