Dua Isu Menarik dalam Penyusunan SLHD Pangkalpinang 2026

HEADLINE, PEMKOT52 Dilihat

PANGKALPINANG – Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, menyoroti sejumlah isu strategis lingkungan dan tata ruang dalam kegiatan Focus Group Discussion I Perumusan Isu Strategis Kota Pangkalpinang untuk penyusunan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Tahun 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Pertemuan Bapperida Pangkalpinang, Kamis (16/4/2026).

Dalam pemaparannya, Saparudin menyampaikan bahwa penyusunan dokumen SLHD menjadi langkah penting dalam merencanakan tata kelola kehidupan perkotaan secara berkelanjutan.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah alih fungsi lahan, termasuk ruang terbuka hijau dan saluran air yang berubah menjadi kawasan permukiman dan pertokoan.

“Problem-problem yang ada seperti alih fungsi lahan, kemudian saluran-saluran sungai dan saluran primer yang dialihfungsikan menjadi rumah dan pertokoan, sehingga ini perlu kita tata ulang,” ujarnya.

Selain itu, persoalan sampah juga menjadi perhatian serius pemerintah kota karena berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Masalah sampah ini menjadi isu kuat karena berdampak pada lingkungan yang tidak bersih, udara yang kotor, serta menyebabkan saluran air menjadi mampet,” jelasnya.

Saparudin juga menyoroti persoalan banjir di kawasan perkotaan yang dinilai perlu penanganan lebih komprehensif, khususnya terkait sistem drainase.

Menurutnya, selama ini aliran air lebih dominan dari arah barat ke timur, sehingga ke depan perlu dirancang saluran primer tambahan dari arah utara ke selatan.

“Ke depan harus ada saluran primer dari utara ke selatan, karena kalau tidak, air akan meluap ke jalan-jalan,” katanya.

Terkait ruang terbuka hijau (RTH), Saparudin menyebut secara persentase Kota Pangkalpinang telah memenuhi ketentuan minimal, namun tetap perlu ditingkatkan kualitas dan pemerataannya.

“Untuk penambahan RTH, kita akan fokus di bantaran sungai dan lahan-lahan idle agar bisa dijadikan kawasan hijau atau hutan kota,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pengembangan kawasan seperti di Mandara yang akan ditanami pohon endemik guna menciptakan lingkungan yang lebih rindang dan nyaman.

Di sisi lain, dalam penanganan sampah, pemerintah kota terus mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang saat ini telah beroperasi di beberapa titik.

Namun demikian, Saparudin mengakui masih terdapat kendala pada sarana pendukung, khususnya keterbatasan armada pengangkut.

“Kita masih kekurangan armada, baik truk, kendaraan operasional, maupun motor pengangkut sampah,” tutupnya. (BM)

Komentar