‎Plafon Ruang Aktif Kemoterapi Anak RSUP Soekarno Ambruk

Begini Kata Maryam

PANGKALPINANG – Plafon salah satu ruangan yang sebelumnya digunakan sebagai kantor dan kini difungsikan sebagai ruang kemoterapi anak di RSUP Dr (HC) Ir Soekarno ambruk.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius dari anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Maryam.

‎Sebelumnya anggota komisi Komisi IV Maryam telah menemukan sejumlah kerusakan pada bangunan layanan radioterapi dan ruang perawatan lain di rumah sakit tersebut.

‎Anggota Komisi IV DPRD Babel, Maryam, mengungkapkan bahwa ambruknya plafon ini sangat memprihatinkan.

Karena sudah berulang kali diingatkan kondisi bangunan yang ada di RSUP tersebut.

‎Maryam mengungkapkan kerusakan-kerusakan itu sudah terlihat jelas saat pihaknya melakukan sidak beberapa waktu lalu.

‎“Hari ini saya mendapat kabar ada satu ruangan yang digunakan sebagai ruang kemoterapi anak bagian pelafonnya ambruk. Beberapa waktu yang lalu ketika kami sidak ke sini, di beberapa bagian sudah kami temukan dan kami ingatkan. Kekhawatiran itu akhirnya terjadi,” ujar Maryam.

Maryam bersyukur kejadian ini tidak menimpa tenaga medis ataupun pasien, karena ruangan itu baru akan digunakan beberapa waktu kemudian.

‎“Nasib baik sekali. Jika ada yang sedang melakukan tindakan medis di ruangan ini, ngeri kita bayangkan apa yang akan terjadi,” tegasnya.

‎Maryam juga menyoroti kondisi bangunan layanan radioterapi yang ia sebut mengalami keretakan di hampir seluruh sisi dinding.

‎“Semua bagian dinding mengalami keretakan. Kalau retaknya bagian plesteran, kami melihat sudah ada perbaikan, tapi tetap retak. Apa yang salah dari bangunan ini? Tolonglah pemerintah Bangka Belitung, tinjau benar-benar bangunan ini,” ujarnya.

‎Tidak hanya itu, saat meninjau gedung perawatan umum, pihaknya juga menemukan tanda-tanda kebocoran dari bekas tetesan air yang sudah mengering pada plafon.

Maryam menambahkan, ada temuan lain yang cukup mengejutkan. Ia menyebut adanya sebuah ruangan gelap yang berisi peralatan medis pengadaan tahun 2020 yang tidak pernah digunakan sejak tiba, karena ruangan tersebut tidak memenuhi standar dan belum mengantongi izin dari Bapeten.

Hingga tiga tahun berlalu, kondisi itu tidak juga dibenahi. Ketika akhirnya diperiksa pada 2023, peralatan tersebut ditemukan sudah dalam kondisi rusak.

‎“Pertama, ruangan yang dimiliki RSUP ini tidak sesuai standar alat tersebut. Tahun 2025 baru diajukan perbaikan, dan itu pun untuk 2026. Ini kan sangat disayangkan,” kata Maryam.

‎Ia mendesak Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas bangunan dan standar fasilitas rumah sakit.

‎“Cobalah bagian yang berkompeten memeriksa dan menelaahnya, perhatikan benar-benar. Ini menyangkut keselamatan pasien dan tenaga medis,” tutup Maryam.

Apa harus memperbaiki dengan cara tambal sulam atau Pemprov punya rencana lain yang membangun dan lebih membuat tenang masyarakat dan kita semua. (Beritamitra.com)

Komentar